Wilayah Himalaya dan Karakoram di Asia terkenal dengan keindahan bentang alam pegunungan yang dihiasi oleh puncak-puncak gunung tertinggi dunia. Nanga Parbat merupakan salah satu keluarga gunung Himalaya yang terkenal selain Gunung Everest. Menjulang setinggi 8.126 mdpl, Nanga Parbat yang terletak di wilayah Pakistan merupakan salah satu gunung tertinggi di dunia serta menjadi tujuan para pendaki gunung profesional yang tertantang untuk memuncakinya.

Dilansir Britannica, nama Nanga Parbat berasal dari bahasa Sansekerta “nagna parvata” yang memiliki arti “naked mountain”. Juga memiliki julukan dalam nama lokal dengan sebutan Diamir  yang memiliki arti “king of the mountains“. Namun dibalik keindahannya, Nanga Parbat juga cukup banyak mengambil nyawa pendakinya sehingga menjadikannya sebagai salah satu gunung paling berbahaya di dunia untuk didaki.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai Gunung Nanga Parbat? simak lima faktanya berikut ini!

1. Salah satu gunung tertinggi di dunia

Gunung Nanga Parbat merupakan salah satu gunung tertinggi di dunia. Dilansir Worlddata, dalam daftar gunung-gunung tertinggi di dunia, Nanga Parbat dengan ketinggian 8.126 mdpl menempati peringkat sebagai gunung tertinggi ke-9 di dunia. Di lokasi letaknya, Nanga Parbat merupakan gunung tertinggi kedua di Pakistan setelah gunung terkenal lainnya yang bernama K2 (8.611 mdpl).

Nanga Parbat juga merupakan bagian dari kelompok 14 gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 8.000-an mdpl yang tersebar di wilayah Himalaya dan Karakoram. Kelompok gunung-gunung tersebut dikenal dengan predikat “the fourteen of eight thousanders”. Nanga Parbat terletak di bagian paling barat wilayah Himalaya sehingga menambah julukannya sebagai benteng barat atau jangkar bagian paling barat wilayah pegunungan Himalaya.

2. Pertama kali berhasil dipuncaki pada tahun 1953

Dilansir Summitpost, upaya pendakian menuju puncak Nanga Parbat sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1895, 1930-an dan 1950, namun upaya-upaya pendakian tersebut tidak berhasil mencapai puncaknya bahkan sejumlah pendaki termasuk pendaki terbaik pada masa itu kehilangan nyawanya ketika berupaya menggapai puncaknya.

Hingga pada tahun 1953, pendaki Austria bernama Herman Buhl (anggota ekspedisi pendakian Austria-Jerman pimpinan Karl Herligkoffer) untuk pertama kalinya berhasil menggapai puncak Nanga Parbat melalui punggungan timur gunung dari sisi Rakhiot Peak. Setelah tahun 1953, sejumlah ekspedisi pendakian juga berhasil mencapai puncak Nanga Parbat, setidaknya pada periode tahun 1962 hingga 2006 terdapat sekitar 17 misi pendakian yang sukses mencapai puncak.

3. Rute pendakiannya didominasi oleh medan vertikal di setiap sisinya

Salah satu karakteristik rute pendakian Nanga Parbat adalah rutenya yang didominasi oleh medan-medan vertikal hampir di semua sisinya. Dilansir Summitpost, Nanga Parbat memiliki tiga wajah dengan tiga punggungan panjang yang membaginya. Wajah Diamir di sisi barat (west face), wajah Rupal di sisi selatan (south face), dan wajah Rakhiot di sisi utara (north face).

Rute Diamir di sisi barat (west face), merupakan rute paling populer untuk pendakian. Dilansir Armchairmountaineer, sisi selatan Nanga Parbat (south face) merupakan salah satu rute terberat pendakian namun memiliki keindahan keajaiban geografis. Wajah Rupal di sisi selatan diyakini merupakan medan vertikal gunung tertinggi di dunia yang menjulang hingga setinggi 4.600 m.

Sementara medan dengan permukaan yang kompleks ditemukan di sisi seberang Rakhiot face. Rute yang lebih mudah untuk pendakian, namun rute tersebut juga merupakan salah satu medan dengan kenaikan elevasi (elevation gains) tertinggi di dunia, yaitu hingga 7.000-an meter dari lembah sungai Indus hingga ke puncak dengan jarak sekitar 25 km.

4. Salah satu gunung paling sulit untuk dipuncaki pada periode winternya

Di kalangan para pendaki elite profesional, terdapat satu kebanggaan (pride) tersendiri untuk menggapai puncak gunung yang tergabung dalam kelompok 14 gunung dengan ketinggian di atas 8.000 mdpl pada periode musim dinginnya (winter ascent). Jika pendakian gunung-gunung tinggi tersebut pada musim pendakian (musim semi) saja sudah sangat membahayakan, sulit dibayangkan bagaimana gunung-gunung tersebut didaki pada periode musim dingin (winter), suhu yang sangat rendah dan guguran salju (avalanche) yang masif menjadi ancaman maut bagi para pendaki.

Hingga tahun 2015, dari kelompok 14 gunung tersebut hanya menyisakan Nanga Parbat dan K2 yang belum bisa didaki pada periode winternya meski sejumlah upaya telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dilansir Nationalgeographic, akhirnya pada February 2016, tim pendaki multinasional untuk pertama kalinya berhasil mencapai puncak Nanga Parbat pada periode winternya, sehingga di tahun 2016 hanya menyisakan K2 yang memiliki mitos tidak bisa dipuncaki pada periode winternya. Akhirnya, berselang 5 tahun kemudian, pada Januari 2021 tim pendaki Nepal berhasil mematahkan mitos K2 tersebut dan menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak Gunung K2 pada periode winter.

5. Salah satu gunung paling mematikan di dunia untuk didaki

Di balik keindahannya, Nanga Parbat juga dikenal sebagai “gunung pembunuh”, karena banyaknya pendaki yang kehilangan nyawanya ketika mendaki menuju puncaknya maupun ketika dalam proses turun kembali karena cuaca buruk, suhu rendah, ataupun guguran salju (avalanche). Dilansir Mensjournal, Nanga Parbat merupakan salah satu dari empat gunung paling mematikan bersama Anapurna, K2 dan Kanchenjunga. Tingkat kematian pendaki (fatality rate) di Nanga Parbat mencapai angka lebih dari 22 persen, sejumlah informasi menyebutkan terdapat catatan 64 kematian dari 287 pendakian.

Zona ketinggian di atas 8.000 mdpl bukanlah tempat di mana manusia bisa hidup tanpa dukungan alat-alat khusus seperti tabung oksigen, zona tersebut juga dikenal sebagai zona kematian (death zone) dan para pendaki gunung akan menumpang hidup sebentar di zona kematian tersebut ketika berusaha menggapai puncaknya.

Dalam sejarahnya, terdapat pendaki-pendaki luar biasa yang berhasil menggapai puncak tertinggi dunia, salah satunya yang terkenal pendaki legendaris Reinhold Messner, dia adalah pendaki pertama yang berhasil memuncaki ke-14 gunung yang tergabung dalam gunung-gunung dengan ketinggian lebih dari 8.000 mdpl dan termasuk pendaki gunung pertama yang mendaki Gunung Everest (8.845 mdpl) tanpa tabung oksigen.

Lalu pada tahun 2019 yang lalu, seorang pendaki Nepal bernama Nirmal “Nims” Purja dengan dukungan timnya berhasil memuncaki ke-14 gunung tersebut hanya dalam waktu 189 hari yang mencatatkan rekor dunia tersendiri. Apa yang mereka lakukan dan kisahnya setidaknya menginspirasi kita untuk menjaga alam ciptaan Tuhan yang begitu indah ini. Apakah kamu berani mengikuti jejak mereka dan menjelahi gunung-gunung tinggi nan indah tersebut?

Baca Juga : https://www.botanicayoruba7.com/5-fakta-unik-jerapah-ternyata-bisa-bertahan-hidup-tanpa-air/

Explore More

8 Keajaiban Alam Indonesia yang Sangat Indah

raja ampat
Februari 3, 2024 0 Comments 1 tag

Contents1 Kawah Ijen2 Gunung Bromo3 Rafflesia Arnoldii4 Green Canyon5 Raja Ampat, Papua6 Pulau Komodo7 Taman Nasional Tanjung Puting8 Danau Kelimutu Keajaiban alam Indonesia tersebar di semua pelosok negeri, dari Sabang

Gunung Kilimanjaro: Gunung Tertinggi di Benua Afrika

gunung kilimanjaro
Juli 20, 2023 0 Comments 1 tag

Contents1 Fakta tentang Gunung Kilimanjaro1.1 1. Puncak Tertinggi bernama Puncak Uhuru1.2 2. Johannes Kinyala Lauwo adalah Pendaki Pertama di Puncak Uhuru1.3 3. Berdiri Sendiri1.4 4. Dekat dengan Katulistiwa Gunung tertinggi

Kenapa Disebut Bukit Barisan? Ini Kekayaan yang Terkandung di Sumatra

bukit barisan
Agustus 22, 2023 0 Comments 2 tags

Ada banyak flora dan fauna yang bergantung pada Bukit Barisan. Simak kekayaan yang terkandung di Bukit Barisan. Pegunungan Bukit Barisan membentang di Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung. ini menjadi panorama